Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Agustus 2009

'ALIENS IN THE ATTIC', Makhluk Asing di Atas Loteng



Awalnya, Stuart Pearson (Kevin Nealon) dan istrinya, Nina (Gillian Vigman) hanya ingin menghabiskan liburan bersama anak-anak mereka di rumah peristirahatan. Celakanya ada hal yang tak diduga Stuart dan Nina. Rumah peristirahatan mereka telah dihuni sekelompok makhluk dari planet lain.

Empat alien bernama Skip, Assassin, Razor, dan Sparks yang datang lebih dulu mendiami lantai paling atas dari rumah peristirahatan keluarga Pearson di Maine. Tak ada yang tahu bahwa ada 'pendatang' dari planet lain sampai Tom Pearson (Carter Jenkins, Jake (Austin Butler) dan anak-anak lain menemukan kawanan alien ini.

Walaupun salah satu dari alien itu menunjukkan persahabatan, namun yang lain punya rencana jahat yang mengancam keselamatan keluarga Pearson. Untungnya, Tom dan Jake menyadari bahwa senjata milik para alien ini tak berpengaruh pada anak kecil dan kini tugas para anak-anak ini untuk menyelamatkan orang tua mereka dan seluruh penghuni bumi dari ancaman maut para 'tamu' dari dunia lain ini.

Generik. Itulah kesan pertama yang tertangkap dari cerita film ini. Bagaimana tidak, tak ada satu pun bagian dari cerita film ini yang bisa dibilang baru. Kisah yang ditawarkan sutradara John Schultz dari naskah karya Mark Burton dan Adam F. Goldberg ini bisa dibilang sama persis dengan cerita-cerita lain tentang kedatangan makhluk dari planet lain yang bermaksud menguasai bumi.

Tanpa usaha membuat ide lama itu jadi sesuatu yang fresh, target memasarkan film ini sebagai film keluarga jelas susah untuk dipenuhi. Untuk anak-anak mungkin kisah yang ditawarkan tak akan jadi masalah namun buat mereka yang tumbuh dengan kisah-kisah serupa, jelas film ini jadi sangat membosankan.

Parahnya lagi, naskah pun dibuat sangat sederhana sehingga tak ada kemungkinan buat para aktor dan aktris untuk menggali lebih jauh karakter yang mereka mainkan. Kalaupun akting para pendukungnya jadi terkesan biasa-biasa saja bisa jadi itu bukan sepenuhnya salah mereka juga. Namun terlepas dari itu, para pendukung film ini masih mampu tampil cukup meyakinkan.

Jadi, satu-satunya yang tertinggal adalah special effect dan celakanya bagian ini pun tak mampu membuat film ini jadi sesuatu yang enak ditonton. Tak mengherankan jika 20th Century Fox, sebagai distributor film ini, memutuskan untuk tidak membuat screening untuk film ini. Jelas mereka takut para kritikus akan membantai habis film ini dan pupuslah sudah peluang mereka untuk mengembalikan modal awal.
Minggu, 12 April 2009

Ketika Monsters Melawan Aliens!

Gambar
Apa jadinya nasib bumi beserta isinya ada ditangan sekelompok monster? Mampukah mereka menyelamatkan kehidupan manusia? Temukan jawabannya di film animasi terbaru, 'Monsters VS Aliens'.

'Monsters VS Aliens' diawali dengan jatuhnya meteor yang mengandung quantonium yang mengenai Susan Murphy (Reese Witherspoon). Gara-gara radiasi itu, Susan berubah menjadi monster yang berbadan besar dan bertenaga super. Setelah masyarakat menyadari perubahan tidak normal Susan, pasukan khusus dari Amerika Seriakt membawanya ke penjara khusus monsters.

Di dalam penjara Susan alias Ginormica bertemu dengan Dr. Cokroach (Hugh Laurie). Cokroach adalah ilmuwan gila berkepala kecoa. Di sana ia juga berkenalan dengan The Missing Link (Will Arnett), dan The Gelatinous B.O.B (Seth Rogen) yang berwujud aneh seperti Jely. Demi mendapatkan kebebasan, mereka berani untuk menjalankan misi untuk mengusir alien yang sedang menduduki bumi.

Namun usaha untuk menyingkirkan alien tidak berjalan mulus. Selain ingin menguasai bumi, alien juga bertujuan untuk mengambil Quantonium yang bersarang di tubuh Susan. Dari situlah muncul kejadian-kejadian bodoh yang akan mengocok perut Anda.

Pengisi suara Susan, Resse Witherspoon berhasil membuat penonton terkesima dengan dialog sehari-hari. 'Monsters VS Aliens' hadir efek 3 dimensi yang membuat pertarungan antara para monster dengan alien lebih hidup. Setiap pertarungan juga diset lebih nyata sehingga tidak seperti film animasi yang sudah-sudah.

Aroma komedi yang kental membuat 'Monsters VS Aliens' layak disaksikan oleh semua umur. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa pasti juga suka dengan film ini.
Jumat, 09 Januari 2009

'YES MAN', Satu Kata Yang Mengubah Dunia

Saat ditinggalkan kekasihnya, Carl Allen (Jim Carrey) mulai menutup diri dari lingkungannya. Ia tak mau bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya dan mengurung diri dalam apartemennya. Semua itu berubah saat Carl bertemu seorang motivator bernama Terrence Bundley (Terrence Stamp).

YES MAN

Dari Terrence Carl 'belajar' bahwa kata 'ya' memiliki kekuatan yang tak terbayangkan dan Terrence meminta Carl untuk mulai mengatakan 'ya' pada apapun yang dikatakan orang. Merasa terinspirasi dengan apa yang dikatakan pria tadi, Carl kemudian bertekad untuk mengubah hidupnya dengan mengatakan 'ya' pada apa pun juga.

Awalnya, hidup Carl jadi lebih 'berwarna'. Carl mulai merasakan banyak perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Namun itu tak berlangsung lama karena Carl kemudian mulai menghadapi banyak masalah karena terlalu banyak mengatakan 'ya' pada saat ia seharusnya mengatakan tidak. Untungnya, Carl kemudian bertemu Allison (Zooey Deschanel) yang akhirnya mengubah hidup Carl menjadi lebih baik.

YES MAN

Film komedi romantis ini diadaptasi dari biografi Danny Wallace yang ditulisnya menjadi buku dengan judul yang sama. Dari alur cerita, film ini sebenarnya malah sangat mirip dengan film LIAR, LIAR yang kebetulan juga dibintangi oleh Jim Carrey. Bedanya, jika film LIAR, LIAR terasa punya 'greget', yang ini justru terasa sedikit hambar.

Agaknya sang penulis naskah gagal menuangkan novel laris karya Danny Wallace ini menjadi bentuk visual yang menarik. Atau bisa jadi pamor film LIAR, LIAR yang menjadi tolok ukur maka film ini jadi malah kehilangan taring. Yang jelas dari sisi cerita film ini terasa kurang kokoh dan tak menyajikan sesuatu yang fresh selain humor fisik ala Jim Carrey.

YES MAN

Sisi romantis yang seharusnya sedikit mampu menolong pun ternyata tak bisa terlalu diandalkan karena 'ikatan batin' antara Jim Carrey dan Zooey Deschanel yang seharusnya menggambarkan sisi romantis film ini malah tak terlihat. Bisa jadi perbedaan usia yang cukup jauh antara kedua bintang ini membuat mereka jadi sedikit kesulitan untuk bermesraan.

Terlepas dari itu semua, film ini ternyata punya performa cukup bagus. Buktinya nama YES MAN sendiri masuk ke jajaran film-film box office dan mengumpulkan tak kurang dari US$79 juta sejak dirilis 19 Desember 2008 lalu.

Selasa, 30 Desember 2008

Madagascar: Escape 2 Africa

Gambar
Petualangan bermula ketika penghuni kebun binatang New York yaitu Alex si Singa, Marty si Zebra, Melman si Jerapah dan Gloria si Kuda Nil yang kabur dan terdampar di Madagascar. Hingga akhirnya mereka pun bersiap-siap meninggalkan pulau tersebut dengan menggunakan pesawat yang dikomandoi sekelompok pinguin. Namun naasnya pesawat tersebut malah jatuh dan mendarat di wilayah Afrika yang ganas. Di sana, Alex bertemu dengan seluruh keluarganya yang telah lama ia tinggalkan.

Berbagai Kejadian konyol pun terjadi. Salah satunya ketika Alex menjalani ritual menuju kedewasaan. Dalam ritual tersebut Alex diharuskan untuk bertarung melawan singa pilihannya sendiri. Namun bukannya bertarung seperti layaknya raja hutan. Alex malah berjoget dengan lincah di hadapan lawannya.

DreamWorks SKG menghadirkan 'Madagascar: Escape 2 Africa dengan pengisi suara aktor dan aktris kelas wahid Hollywood. Di antaranya, Ben Stiller, Chris Rock, Cedric the Entertainer dan Alec Baldwin. Film animasi itu disutradarai oleh Eric Darnell dan Tom McGrath.

'Madagascar: Escape 2 Africa' bisa dibilang adalah salah satu film yang paling dinanti kehadirannya tahun 2008 ini. Buktinya beberapa minggu lalu 'Madagascar: Escape 2 Africa' berhasil menduduki posisi puncak box office. Hingga saat ini film itu telah menghasilkan pendapatan lebih dari US$ 500 juta di seluruh dunia.

'Madagascar: Escape 2 Africa' dirilis dalam dua versi. Selain diputar dalam format 33 mm (bioskop konvensional-red), film itu juga bisa dinikmati dengan format IMAX DMR (Digital Re-mastering-red). Film dengan format IMAX DMR itu didukung dengan tata suara yang sangat jernih yang memiliki kekuatan Digital Surround sound 12,000 watts dengan tampilan layar raksasa yang mantap.
Rabu, 26 November 2008

'TARZAN KE KOTA', Kisah Lama, Sentuhan Baru

Tarzan (Ajul Jiung) mungkin tak pernah berpikir bahwa ia akan menapakkan kaki di kota besar. Semuanya berawal saat ia secara tak sengaja menyelamatkan seorang gadis bernama Ratna (Sandra Dewi) putri seorang pengusaha kosmetik Pak Barkah bin Sadeli (Reza Pahlevi).

Ratna terpisah dari kelompoknya saat ia bersama ayahnya berangkat ke hutan untuk mencari daun tapak monyet yang dipercaya dapat mencegah proses penuaan. Ratna kemudian diculik oleh Arde (Vincent Club Eighties) yang berusaha untuk mendapatkan daun tapak monyet juga untuk orang tuanya yang menjadi saingan bisnis ayah Ratna.

Tarzan yang merasa kasihan pada Ratna kemudian bersedia mengantar gadis ini pulang kembali ke kota. Maka mulailah Tarzan belajar segala macam aturan yang berlaku bagi penghuni kota, mulai dari cara hidup sampai pelajaran bahasa Inggris.

Sayangnya, Arde yang kemudian berganti nama menjadi Mamahi berusaha memanfaatkan Tarzan untuk menangkap binatang di hutan demi kepentingan usaha ayahnya. Tarzan yang akhirnya menyadari bahwa ia telah dimanfaatkan kemudian berusaha menghentikan niat jahat Mamahi dan melindungi para penghuni hutan yang selama ini menjadi sahabat Tarzan.

Reka Wijaya, sang sutradara, mencoba menghidupkan lagi legenda lama tentang Tarzan yang sebelumnya pernah diusung aktor legendaris Benyamin. Kali ini dengan sedikit polesan, maka kisah lama itu jadi relevan lagi dengan setting zaman modern. Dengan sederet nama-nama beken sebagai pendukungnya, bisa dipastikan film ber-genre komedi petualangan ini akan menjadi hiburan segar.
Suatu ketika terjadi sebuah wabah yang menyebabkan organ tubuh tiba-tiba saja tak berfungsi. Tak ada jalan lain kecuali transplantasi organ secara besar-besaran harus dilakukan. Di tengah kemelut ini, muncul perusahaan GeneCo yang menawarkan solusi transplantasi organ tubuh.

GeneCo memberikan syarat bahwa dalam proses transplantasi organ dengan biaya tinggi ini hanya digunakan obat-obatan produksi GeneCo. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah bila dalam batas waktu yang disepakati penerima donor organ gagal membayar penuh biaya, maka GeneCo berhak mengambil organ yang telah dicangkokkan dengan cara apa pun.

GeneCo menyewa pembunuh bayaran untuk melakukan tugas kotor ini. Pembunuh bayaran yang kemudian dikenal dengan nama Repo Man ini tak kenal ampun dan tak ragu-ragu menghabisi nyawa orang untuk bisa melaksanakan tugasnya. Salah satu pembunuh bayaran ini adalah Nathan Wallace (Anthony Head) yang sebenarnya memiliki seorang putri bernama Shilo Wallace (Alexa Vega) yang sebenarnya menderita penyakit darah yang langka.

Di sisi lain, keluarga besar pemilik GeneCo sedang menghadapi masalah internal keluarga yang harus segera mereka pecahkan karena Rotti (Paul Sorvino) pemilik GeneCo sedang di ambang ajal.

Film opera rock hasil arahan sutradara Darren Lynn Bousman ini akan berisi sekitar 57 lagu dan mulai diedarkan Lionsgate awal November ini.
Minggu, 23 November 2008

'JOURNEY TO THE CENTER OF THE EARTH', Perjalanan ke Pusat Bumi

Meski sudah berlalu beberapa tahun, namun Profesor Trevor (Brendan Fraser) tak pernah bisa melupakan peristiwa misterius hilangnya Max, saudaranya. Dan misteri ini jadi semakin pelik saat Sean (Josh Hutcherson), putra Max muncul.

Sean datang untuk berlibur. Namun Sean juga membawa beberapa dokumen yang ditinggalkan ayahnya yang menyebutkan bahwa ada jalan yang mengarah menuju perut bumi. Penasaran dengan 'bukti-bukti' baru ini, Trevor lalu mengajak Sean menuju Iceland di mana diperkirakan jalan menuju pusat bumi itu berada.

JOURNEY TO THE CENTER OF THE EARTH

Untuk melancarkan perjalanan mustahil ini, Profesor Trevor membayar Hannah (Anita Briem) untuk menjadi pemandu jalan. Meski awalnya agak ragu dengan 'ide gila' Trevor, Hannah akhirnya setuju untuk menjadi pemandu jalan petualangan yang tak masuk akal ini.

Profesor Trevor dan timnya akhirnya berhasil menemukan jalan seperti petunjuk yang ditinggalkan saudaranya. Namun perjalanan ini akhirnya malah menjadi petualangan paling menegangkan yang pernah mereka alami. Berhasilkah sang profesor menemukan jalan ke pusat bumi?

JOURNEY TO THE CENTER OF THE EARTH

Film ini mungkin bukan film pertama yang mengadaptasi novel spektakuler karya Jules Verne. Beberapa sutradara sempat pernah mencoba memvisualisasikan naskah novel legendaris ini. Yang membuat film ini jadi berbeda dengan adaptasi sebelumnya mungkin adalah keputusan untuk membuat film ini menjadi format tiga dimensi. Dan tak tanggung-tanggung, bila kebanyakan film tiga dimensi hanya membuat beberapa adegan saja dalam format 3D, film ini malah sepenuhnya diambil dalam format 3D. Karena sepenuhnya diambil dalam format 3D, maka mau tak mau Anda akan sering mendapat 'kejutan' yang kadang tak terlalu perlu dan berkesan berlebihan.

Sang sutradara, Eric Brevig, yang sebelumnya dikenal sebagai 'master' visual effects yang sempat menggarap film TOTAL RECALL mencoba menuangkan ide liar Jules Verne ke dalam bentuk visual yang memang penuh dengan adegan yang mengejutkan. Dilihat dari sisi visual, film ini memang benar-benar mengagumkan. Adegan yang sebenarnya tak mungkin terjadi bisa terlihat begitu alami dan nyata.

JOURNEY TO THE CENTER OF THE EARTH

Namun keunggulan film ini akhirnya hanya bertumpu pada sisi visual itu saja. Dari sisi cerita, mungkin kita sudah jenuh dengan ide Jules Verne yang sekarang terbukti bahwa itu tak masuk akal sehingga film ini jadi terkesan mengada-ada. Dan ini diperparah dengan beberapa adegan yang seolah menambah kesan tak masuk akal ini, seperti saat ketiga pemeran utama ini harus terjatuh dari tempat yang tinggi tanpa menderita cedera sedikitpun.

Dari sisi naskah pun sebenarnya tak ada dialog yang cukup 'kuat' sehingga mampu mendongkrak 'kredibilitas' film ini. Ini patut disayangkan lantaran akting Brendan Fraser sebenarnya cukup bagus. Malah bisa dibilang, setelah bermain dalam trilogi THE MUMMY, Brendan jadi identik dengan tokoh petualang. Bisa jadi Brendan adalah calon pengganti Harrison Ford bila ia berencana mengakhiri karirnya sebagai Indiana Jones.

Selasa, 18 November 2008

'DECEPTION', Terjebak Tipu Muslihat

Jonathan (Ewan McGregor) adalah seorang akuntan yang sudah kehilangan semangat hidup. Jonathan hanya menjalani hidupnya dari hari ke hari tanpa ada gairah atau kebahagiaan lagi. Lelaki patah hati ini kemudian seolah bangkit lagi semangat hidupnya ketika ia diperkenalkan pada sisi kehidupan yang belum pernah disentuhnya.

Suatu hari Jonathan bertemu Wyatt (Hugh Jackman) seorang pengacara yang kemudian menjadi teman baik Jonathan. Prihatin dengan kehidupan yang dijalani Jonathan, Wyatt lalu mengajak Jonathan untuk mendatangi sebuah klub sex baru yang bernama The List.

Beberapa waktu kemudian, ponsel Jonathan dan Wyatt secara tak sengaja tertukar, dan gara-gara ponsel tertukar inilah Jonathan lalu bertemu seorang wanita yang berhasil membuat semangat hidup Jonathan bangkit lagi. Jonathan yakin bahwa wanita yang baru saja dikenalnya adalah wanita yang selama ini diidam-idamkannya.

Namun hari-hari bahagia Jonathan tak berumur panjang. Kedekatan Jonathan dengan wanita itu membuatnya menjadi tersangka utama dalam kasus hilangnya wanita itu. Belum lagi ada uang sejumlah US$ 20 juta yang terlibat di dalamnya. Siapa sebenarnya wanita itu? Apakah Wyatt ada sangkut pautnya dengan kasus ini.

Film ber-genre erotic thriller ini adalah hasil karya pertama sutradara Marcel Langenegger yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara iklan. Mungkin ini pula yang membuat film ini jadi terasa tersendat-sendat. Di satu titik, film ini seolah berjalan lambat sementara pada sisi lain film ini seolah terburu-buru mencapai penyelesaian. Misalnya saja hubungan akrab antara Jonathan dan Wyatt yang seolah-olah bisa terjadi dengan cepat meski keduanya memiliki karakter yang berseberangan, dan ini terasa agak janggal dan mengganggu jalan cerita secara keseluruhan.

Di titik tertentu, film ini juga terasa berjalan lambat terutama saat adegan Jonathan dan Wyatt berbincang-bincang di balkon beberapa menit setelah mereka berkenalan. Dialog yang terjadi di antara mereka berdua terasa sangat lambat meski sebenarnya untuk memberi gambaran pada penonton bahwa kedua orang ini sedang berusaha saling mengenali.

Untungnya secara visual film ini tak terasa membosankan. Pengambilan gambar yang menggunakan camera digital membawa suasana 'lain' pada film ini. Meski ini tak bisa dibilang teknik baru namun setidaknya sentuhan warna yang dihasilkan kamera digital memang membuat film ini jadi terasa lain.

Dari sisi cerita, film ini sebenarnya tak menawarkan banyak. Ide cerita film ini malah bisa dibilang mirip film-film karya Alfred Hitchcock di tahun-tahun 80-an di mana seorang pria/ wanita lugu terjebak dalam satu masalah besar karena keluguannya. Dan akting Ewan McGregor sebagai seorang pria yang lugu juga tak terlalu buruk meski transisi yang terjadi antara saat ia masih lugu dengan saat ia menikmati 'kehidupan baru'-nya terasa agak terburu-buru.
Jumat, 14 November 2008

Si Jago Merah: Komedi Pantang Menyerah

Gambar
Apa arti petugas pemadam kebakaran di mata Anda? Hanya profesi atau pahlawan? Iqbal Rais mempersembahkan 'Si Jago Merah' film komedi yang pantang menyerah bak petugas pemadam kebakaran.

Kisah ini dibuka dengan pertemuan 4 mahasiswa yang nunggak uang kuliah 4 semester sebesar Rp 5 juta. Mereka adalah Gito Prawito (Desta 'Club Eighties') anak pengusaha asal Sidoarjo, Dede Rifai (Ringgo Agus Rahman) anak pejabat yang korupsi, Kuncoro Prasetyo (Ytonk 'Club Eighties') anak pengusaha jamu dan Rojak Panggabean (Judika 'Idol') pemuda asal Medan.

Mereka kemudian mencari cara untuk membayar uang kuliah dengan menjual barang berharganya. Setelah itu apa? Mereka bahkan kesusahan untuk makan. Demi mengirit ongkos, keempatnya pindah kontrakan dekat kampus. Mereka pun bertemu dengan Mba Sally (Magdalena), pemilik rumah yang cantik namun kabarnya simpanan pengusaha.

Dede, Gito, Coro dan Rojak pun bekerja sambilan. Namun ternyata profesi mereka terlalu menyita banyak waktu hingga kuliah keteteran. Gito muncul dengan ide untuk menjadi petugas pemadam kebakaran. Menurutnya, kebakaran tak datang tiap hari sehingga tugas mereka pun tak banyak.

Ternyata menjadi petugas pemadam kebakaran tak seperti yang mereka kira. Konflik pun muncul saat Dede dikejar-kejar sahabat Nola (Poppy Sovia) yang berbadan besar gara-gara tak kunjung bayar hutang kepada kekasihnya itu. Apalagi Gito jatuh cinta dengan Airin (Tika Putri).

Si jago merah adalah mobil pemadam kebakaran butut yang bangun dari tidur panjangnya. Rojak yang mahasiswa tehnik mesin berhasil membuat si jago merah berjalan kembali. Karena itulah ke-4 pemuda itu diterima bekerja sebagai pemadam kebakaran.

'Pantang Pulang Sebelum Padam' adalah moto para petugas kebakaran yang akhirnya jadi inspirasi mereka. Tanpa disadari, mereka mencintai profesi tersebut dengan segenap 
hati. Si jago merah jua lah yang mempersatukan mereka kembali.

Film bergenre komedi ini menyuguhkan banyak guyonan segar. Bagaimana Dede yang playboy, Coro si lemot, Rojak tukang provokatif dan Gito pemuda lugu memberikan porsi yang seimbang dalam film tersebut. Sebut saja adegan Dede yang merayu Francine Roosenda di mall atau saat Coro mencoba mencuri hati Mba Sally.

Tak juga tertawa dengan adegan mereka, masih banyak scene kocak lain yang bisa jadi favorit Anda. 'Si Jago Merah' memang pantang menyerah demi membuat Anda terpingkal. 

Tak jauh suksesnya membuat penonton tertawa seperti film 'The Tarix Jabrix' yang juga disutradarai Iqbal Rais. Pantang puas sebelum ketawa! 

Rabu, 12 November 2008

'BEVERLY HILLS CHIHUAHUA', Petualangan Mencari Jalan Pulang

Chloe (Drew Barrymore) adalah seekor anjing chihuahua yang tinggal di Beverly Hills. Cloe yang selama hidup selalu dimanjakan oleh pemiliknya tiba-tiba harus menghadapi kerasnya kehidupan jalanan Meksiko yang panas.

Chloe yang terpisah dari tuannya tersesat dan tak bisa menemukan jalan pulang. Mau tak mau, Chloe yang semula manja harus membiasakan diri dengan pergaulan anjing-anjing jalanan di kota itu. Untungnya ada Delgado seekor anjing gembala Jerman dan si kecil Papi yang tak kenal lelah membantu Chloe menemukan jalan pulang.

Film komedi Walt Disney arahan sutradara Raja Gosnell ini jadi menarik lantaran tak banyak film non-animasi yang menjadikan binatang sebagai tokoh utamanya. Kebanyakan film yang bertokoh sentral binatang adalah film animasi, mungkin dengan pertimbangan lebih mudah dalam penggarapannya. Ini artinya film BEVERLY HILLS CHIHUAHUA ini memang punya tingkat kesulitan penggarapan yang lumayan tinggi.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya mengatur para binatang ini agar sesuai dengan adegan yang diharapkan sang sutradara. Kabarnya, Raja Gosnell menggunakan jasa beberapa pelatih binatang papan atas untuk mewujudkan tiap adegan dalam film ini. Namun tentu saja para pelatih binatang ini tak akan mampu membuat para binatang ini bisa menggerakkan bibir sesuai dengan teks naskah yang dibacakan para pengisi suaranya. Dan di sinilah peran para animator diperlukan.

Penggarapan animasi dan visual effect film ini dipercayakan pada Cinesite yang berbasis di London. Ada dua nama besar, Matt Johnson dan Alexander Williams yang dipercaya untuk membuat para binatang ini seolah mampu berbicara layaknya manusia. Dan hasilnya memang mengagumkan. Bahkan bisa dibilang tak terlihat bahwa bibir binatang yang bergerak ini sebenarnya adalah hasil animasi.

Sayangnya, hasil kerja para animator ini agaknya kelewat 'sukses'. Artinya pada beberapa hal bahkan ekspresi wajah para binatang ini bisa dibilang lebih mirip ekspresi wajah manusia dari pada ekspresi binatang. Dalam film full animation ini mungkin tak masalah, tapi yang jadi masalah di sini adalah bahwa film ini bukan sepenuhnya film animasi. Sedikit banyak, 'kerja keras' para animator ini justru membuat film ini jadi sedikit terlihat aneh.

Soal pengisian suara, bisa jadi memang tak ada masalah. Pemilihan aktor berdarah Latin seperti George Lopez, Andy Garcia, Edward James Olmos dan Paul Rodriguez justru malah menambah kuat kesan Latin dari film yang pengambilan gambarnya dilakukan di Meksiko ini. Suara Drew Barrymore pun terasa pas menggambarkan seekor anjing manja yang terbiasa hidup di lingkungan yang mewah.

Satu yang cukup menarik adalah sistem pengambilan gambar yang menggunakan teknik POV (Point of View) yang membuat penonton serasa ikut mengalami petualangan para anjing ini. Dan teknik yang digunakan Raja Gosnell ini cukup mampu membuat penonton serasa terlibat dalam film ini. Terlepas dari realistis atau tidak, film ini memang adalah film konsumsi keluarga yang layak ditonton.
Jumat, 07 November 2008

'CONNECTED', Ikatan Batin Lewat Telepon

Tak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dan kadang nasib buruk memang tak bisa ditolak. Setidaknya itulah yang dialami Grace Wong (Barbie Hsu) seorang janda beranak satu yang secara tak sengaja menjadi saksi mata pembunuhan.

Grace yang baru saja mengantar putrinya ke sekolah, tiba-tiba saja ditabrak sebuah mobil. Dalam kejadian yang berlangsung sangat cepat tersebut, Grace sempat menyaksikan adegan pembunuhan di depan matanya. Sang pembunuh yang tak mau mengambil resiko lantas menawan Grace dengan maksud menghilangkan jejak.

Saat disekap dalam sebuah rumah, Grace mencoba memperbaiki sebuah telepon yang rusak dan berhasil menelepon keluar. Karena kebetulan pula Grace berhasil menghubungi Bob (Louis Koo) seorang penagih utang yang sedang berada dalam perjalanan.

Awalnya Bob tak percaya saat Grace mencoba memberi tahu pria yang tak dikenalnya ini bahwa ia sedang disekap oleh seorang penjahat. Namun setelah serangkaian pembicaraan, Bob akhirnya percaya dan berusaha mencari lokasi Grace disekap.

Film arahan sutradara Benny Chan ini sebenarnya adalah remake dari sebuah film 'barat' berjudul CELLULAR yang beredar sekitar tahun 2004 lalu. Film ini juga menjadi film Asia pertama yang melakukan remake film barat.

Dalam sejarah, tak banyak film remake yang berhasil menangkap 'roh' dari film original-nya tanpa harus terjebak menjadi sebuah fotokopi. Salah satu film yang bisa dibilang cukup berhasil adalah CONNECTED ini.

Meski alur cerita utama masih tetap sama dengan film original-nya, namun penokohan pada film ini membuatnya jadi lebih 'bisa dipercaya'. Ini tentu saja adalah hasil kreativitas Benny Chan yang mencoba membuat film ini jadi berbau Asia termasuk latar belakang karakternya.

Karakter yang kuat tentu saja tak ada artinya bila tak diimbangi dengan akting yang cukup berbobot juga. Dan dalam hal ini Louis Koo dan Barbie Hsu mampu menerjemahkan naskah film ini menjadi bentuk visual yang meyakinkan. Bahkan bisa dikatakan akting Barbie dan Louis lebih terlihat alami ketimbang Kim Basinger dan Chris Evans yang memerankan tokoh yang sama dalam film CELLULAR.

Yang cukup menarik dari film ini adalah kenyataan bahwa meski Anda sudah melihat film original-nya, 'ketegangan' yang disusun sang sutradara dengan cara berpindah-pindah adegan dari Barbie ke Louis dan sebaliknya tetap dapat dijaga dengan baik.
Kamis, 06 November 2008

'HALLOWEEN', Kembalinya Mimpi Buruk Halloween

Michael Myers (Daeg Faerch) tumbuh dalam keluarga yang berantakan. Di usia sepuluh tahun, Michael sudah menampakkan gejala psikopat. Michael punya kegemaran menyiksa dan membunuh binatang, hobi yang akhirnya menjadi mimpi buruk bagi seluruh penghuni kota kecil Haddonfield, tempat Michael tinggal.

Di malam Halloween, Michael kecil menghabisi nyawa kakak dan ayah tirinya. Ulah ini membuat Michael harus mendekam di rumah sakit jiwa untuk waktu yang cukup panjang. Selama dalam rumah sakit, Michael berada dalam perawatan Dokter Sam Loomis (Malcolm McDowell) yang akhirnya menyerah karena tak mampu menguak misteri kondisi kejiwaan Michael.

Deborah (Sheri Moon Zombie), ibu Michael, yang merasa putus asa akhirnya mengambil jalan pintas, bunuh diri, lantaran Michael membunuh seorang perawat saat ibunya mengunjungi Michael.

Enam belas tahun berlalu, namun Michael tak juga menunjukkan perubahan. Michael bahkan berhasil melarikan diri dari rumah sakit saat akan dipindahkan ke penjara dengan keamanan ketat. Kini, setelah bertahun berada dalam kekangan, Michael hanya punya satu tempat untuk dikunjungi: Haddonfield.

Film arahan sutradara Rob Zombie ini sebenarnya adalah remake dari film era 70-an dengan judul yang sama. Namun untuk disebut sebuah remake mungkin kurang tepat karena Rob Zombie telah 'menerjemahkan' ulang film ini menjadi sebuah film dengan 'gaya' Rob sendiri.

Sejak dirilis akhir Agustus 2007 lalu, film ini banyak menuai kritikan pedas dari para kritikus film lantaran tak menawarkan sesuatu yang lebih baik dari film original-nya. Mungkin ini tidaklah terlalu mengejutkan bila mengingat track record Rob Zombie yang sebelumnya juga melepas film-film dengan gaya yang tak jauh beda dari film ini.

Salah satu beda yang menonjol bila dibanding dengan film original-nya adalah 'penggalian' motivasi Michael yang dalam film sebelumnya tak terlalu banyak disinggung. Dalam film ini Rob seolah membuat tokoh Michael Myers jadi lebih 'simpatik' dalam artian bahwa latar belakang kejiwaan Michael timbul karena lingkungan yang mendorongnya menjadi seorang pembunuh.

Sayangnya, 'kedalaman' karakter Michael ini tak banyak membantu alur cerita film secara keseluruhan. Bisa dibilang film ini tak beda dengan film-film slasher lain seperti SCREAM atau I KNOW WHAT YOU DID LAST SUMMER. Rob Zombie tak mampu memberikan unsur fear factor seperti yang ditawarkan film original-nya. Alih-alih membuat penonton merasa 'tegang' karena menunggu apa yang akan terjadi, Rob malah memberikan suguhan adegan gore yang membuat film ini jadi lebih terasa sebagai film yang mengumbar adegan kekerasan dan darah ketimbang film yang menawarkan unsur thriller.

Dilihat dari kemampuan akting, ada dua nama yang menonjol dalam film ini: Malcolm McDowell yang berperan sebagai Dr. Loomis dan Sheri Moon Zombie (istri Rob Zombie) yang memerankan ibu Michael Myers. Sebenarnya bukan karena akting mereka yang benar-benar memukau, namun lebih karena hanya dua orang ini yang kebagian naskah paling banyak. Sisanya sibuk berteriak ketakutan seperti dalam kebanyakan film slasher.

Jadi, bila Anda termasuk orang yang menganggap blood dan gore adalah hiburan, film ini akan menjadi tontonan yang sangat menarik buat Anda. Jika tidak, Anda tak akan mendapat apa-apa dari film ini.
Menjalani tahun terakhir di SMA bisa punya banyak arti. Ada yang berharap masa ini cepat berakhir agar mereka bisa segera masuk universitas yang artinya lebih banyak 'kebebasan' namun tak jarang yang berharap masa SMA tak pernah berakhir.

Troy Bolton (Zac Efron) dan Gabriella Montez (Vanessa Hudgens) adalah jenis yang terakhir. Seiring waktu yang berjalan, mereka semakin gelisah. Mereka sadar bahwa tak lama lagi mereka akan berpisah karena harus menempuh jalan hidup mereka masing-masing.

HIGH SCHOOL MUSICAL 3: SENIOR YEAR

Bersama anggota Wildcats yang lain termasuk Sharpay Evans (Ashley Tisdale), Ryan Evans (Lucas Grabeel), Chad Danforth (Corbin Bleu), Taylor McKessie (Monique Coleman), dan Kelsie Nielson (Olesya Rulin) mereka lalu mencoba mengungkapkan kegundahan mereka lewat musik yang mereka pentaskan.

Bagian ketiga dari sekuel HIGH SCHOOL MUSICAL ini masih dipercayakan pada sutradara sekaligus koreografer Kenny Ortega yang juga menggarap dua sekuel sebelumnya. Tak cuma sang sutradara, keenam aktor dan aktris pendukung film ini pun tetap kembali memegang peran sebelumnya.

HIGH SCHOOL MUSICAL 3: SENIOR YEAR

Karena film bertema musikal ini dilepas dengan target penonton 'keluarga', maka jangan terlalu berharap mendapat suguhan cerita yang realistis. Malah bisa dibilang alur cerita film ini lebih mirip dongeng anak-anak. Semua masalah pasti bisa diselesaikan selama masih ada teman yang setia. Ini tak mengherankan karena bila dibuat lebih realistis, maka film ini akan jadi terlalu berat untuk dicerna anak-anak.

Dari sisi akting, mungkin para pemain utama film ini tak terlalu mengalami masalah karena mereka telah beradaptasi dengan karakter tokoh yang mereka perankan sejak bagian pertama film ini. Dan yang jelas waktu dua tahun yang berlalu sejak bagian pertama yang dilepas tahun 2006 pasti telah membuat para aktor dan aktris pendukung film ini lebih 'dewasa' dalam masalah akting.

HIGH SCHOOL MUSICAL 3: SENIOR YEAR

Film HIGH SCHOOL MUSICAL 3: SENIOR YEAR ini juga tercatat sebagai sekuel yang menghabiskan biaya produksi paling tinggi bila dibanding dengan dua sekuel sebelumnya. Hasilnya, sebuah tontonan yang cukup memanjakan mata, tentunya bila Anda suka dengan film-film bertema musikal.

Salah satu kelemahan dari film ini bisa jadi adalah tema yang tak terlalu 'menggigit'. Dengan tema yang seringan ini, film ini bisa jadi hanya akan memuaskan para fans lama dari sekuel ini. Sementara di saat yang sama film ini tak akan mampu menggaet para penggemar baru.

Rabu, 29 Oktober 2008

'GHOST SON', Titisan Arwah Penasaran

Stacey (Laura Harring) dan Mark (John Hannah) yang baru saja menikah memutuskan untuk tinggal di peternakan milik Mark di Afrika Selatan. Di tempat terpencil itu, sepasang pengantin baru ini mengalami hari-hari yang bahagia. Semua berjalan lancar sampai suatu hari Mark menghubungi Stacey lewat radio komunikasi.

Ternyata Mark mengalami kecelakaan fatal. Stacey yang dengan segera datang ke tempat terjadinya kecelakaan tak mampu menyelamatkan Mark yang mengalami luka dalam sangat parah. Walaupun dilanda kesedihan yang dalam, namun Stacey memutuskan untuk tetap tinggal di peternakan Mark seusai pemakaman.

Beberapa saat kemudian, Stacey mulai dihantui Mark yang menagih janji sehidup semati. Stacey yang masih diliputi rasa sedih kemudian mencoba bunuh diri namun sempat digagalkan oleh seorang dokter kenalan Stacey.

Di saat inilah kemudian diketahui bahwa Stacey sedang hamil. Celakanya, bayi yang kemudian lahir ini ternyata dirasuki arwah Mark yang tetap menginginkan kematian Stacey. Beberapa kali bayi ini mencoba untuk membunuh ibunya dengan segala macam cara.

Film horor arahan sutradara Lamberto Bava ini mengambil setting di pedalaman Afrika Selatan. Bisa jadi sang sutradara bermaksud untuk memperkokoh kesan magis dan supranatural yang coba ditampilkan film ini.

Dua hal yang bisa digarisbawahi dari film ini adalah tokoh yang tak memiliki kedalaman karakter dan jalan cerita yang tak logis. Ini mungkin bukan sesuatu yang aneh untuk sebuah film horor. Kebanyakan film horor memang sering mengabaikan dua hal yang cukup penting dalam sebuah film ini.

Jarang ada film ber-genre horor yang memiliki kedalaman karakter dan jalinan cerita yang logis. Ini yang membuat film-film dari genre ini selalu identik dengan film dengan biaya dan kualitas rendah.

Untuk sebuah film horor, GHOST SON ini termasuk memiliki alur cerita yang cukup lambat. Bila biasanya film horor selalu dipenuhi oleh adegan menegangkan justru dalam film ini adegan tegang tak terlalu banyak ditemui. Hal lain yang bisa dibilang menyimpang dari tradisi sutradara Bava adalah minimnya adegan yang mengumbar pertumpahan darah. Biasanya film-film hasil arahan sutradara asal Italia ini tak pernah meninggalkan dua hal: blood dan gore.

Menilai film ini memang agak sulit. Untuk sebuah hiburan ringan, film ini tergolong agak membosankan karena alur yang lambat, namun untuk menyebutnya sebuah tontonan yang berat mungkin juga kurang pas lantaran kualitas akting dan naskah yang tak terlalu bagus. Mungkin lebih tepat untuk menyebutnya sebuah film horor yang menyimpang dari jalurnya.
Selasa, 28 Oktober 2008

'P2', Tragedi di Malam Natal

Angela Bridges (Rachel Nichols) adalah seorang wanita karir yang sukses. Pekerjaan membuat Angela harus sering pulang malam termasuk pada malam Natal yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya.

Angela yang berjanji untuk datang awal agar bisa makan malam bersama keluarganya di malam Natal itu terpaksa harus tinggal lebih lama di kantornya. Awalnya Angela yang sudah bersiap pulang mendapati mobilnya tak dapat dihidupkan. Thomas (Wes Bentley), seorang petugas keamanan yang mencoba membantu pun tak bisa berbuat banyak.

Angela kemudian memutuskan untuk pulang dengan taksi. Sayangnya ini pun tak berhasil karena Thomas yang sudah lama mengamat-amati Angela punya rencana lain. Thomas ingin makan malam bersama Angela, dan ini bukanlah sekedar permintaan yang bisa ditolak.

Tema seorang wanita yang terjebak di dalam sebuah ruangan bersama seorang pria yang punya 'niat buruk' mungkin bukan cerita baru. Banyak film layar lebar, bahkan film televisi, yang mengangkat cerita serupa. Yang beda hanyalah lokasi dan motif saja, selebihnya sama persis. Film berjudul singkat, P2, ini juga bukan pengecualian.

Ada satu masalah yang membuat film ini jadi terasa 'panjang'. Pemilihan lokasi area parkir yang relatif cukup luas dengan hanya ada dua tokoh di dalamnya memang membuat film ini sedikit terasa 'membosankan'. Tak banyak yang sebenarnya bisa dilakukan dua tokoh ini untuk durasi film sekitar 100 menit ini.

Yang membuat film ini terasa beda sebenarnya adalah logisnya alur cerita. Apa yang dilakukan tokoh Angela dan Thomas dalam film ini terlihat masuk akal sehingga tak ada kesan membuat penonton jadi 'bodoh'. 'Ketaatan pada logika' memang sangat berpengaruh pada kekokohan alur cerita sebuah film, dan P2 ini termasuk film yang cukup taat pada logika.

Dari sisi akting, meski (Wes Bentley) juga mendapat peran cukup penting, namun bisa disebut bahwa film ini adalah tentang Rachel Nichols. Rachel mampu menerjemahkan kondisi psikologis seorang wanita yang sedang berada di bawah ancaman dan berusaha bertahan dengan cukup baik. Tak banyak aktor atau aktris yang bisa menggambarkan kondisi kejiwaan ini, tapi Rachel mampu menampilkannya dengan baik.

Secara keseluruhan, film P2 ini cukup layak disebut film dari genre psychological thriller yang cukup berhasil. Sebagai sebuah hiburan pun film ini menyuguhkan tontonan yang enak dilihat terutama bagi mereka yang senang dengan film dari jenis ini
Senin, 27 Oktober 2008

P2: Teror di Tempat Parkir

Gambar

Kebanyakan orang merasa takut dan tidak nyaman saat berjalan sendirian ke tempat parkir, khususnya pada malam hari. Itulah konsep utama yang diangkat dalam film menegangkan 'P2' ini.

Pada suatu malam sehari sebelum Natal di New York, seorang workaholic bernama Angela (Rachel Nichols) bekerja sampai larut malam. Ketika ia memutuskan untuk pulang, mobilnya yang diparkir di P2 tidak dapat digunakan. Dia tidak dapat keluar dari gedung karena semua pintu keluar sudah terkunci.

Akhirnya ia memutuskan untuk mencari bantuan pihak keamanan di basement. Di situ dia bertemu Thomas (Wes Bentley). Thomas pun mencoba membantu menyalakan mesin mobilnya, tapi tidak berhasil. Angela tidak sadar, pertemuannya dengan Thomas menjadi awal dari malam yang paling mengerikan dalam hidupnya. Tiba-tiba saja Angela terikat di kursi dan diteror oleh seorang psikopat di malam itu.

Film bergenre suspense thriller ini merupakan karya pertama dari sutradara Franck Khalfoun. Bersetting di tempat parkir sebuah kantor, di situlah semua kekejaman dan teror terjadi.

Franck Khalfoun hanya menggunakan 5 pemain dengan akting yang cukup memadai. Di awal film kita sudah dikejutkan dengan adegan-adegan yang di luar dugaan. Penggunaan scoring musik Natal klasik cukup menambah efek seram. Beberapa adegan dirasa sadis.

Namun karena sudah banyaknya genre film dan plot seperti ini, 'P2' seharusnya bisa memberikan inovasi baru. Beberapa adegan dirasa kurang logis, misalnya saat anjing rottweiler milik Thomas tiba-tiba muncul di pintu gerbang padahal sebelumnya anjing itu dirantai di kantornya.

Seperti layaknya sebuah film thriller, film ini menampilkan tokoh utama yang seksi dan harus berhadapan dengan seorang psikopat. Namun sayang film berdurasi 1 jam 38 menit ini alurnya mudah ditebak. Jika dibandingkan dengan film 'SAW' yang bergenre sama, film ini terasa kurang menakutkan.

Mupeng: Benar Bikin Mupeng?

Gambar

Abi (Mario), Angga (Dimas Aditya) dan Eksa (Risky Mocil) adalah tiga sahabat yang melakukan semua hal bersama. Kuliah satu kampus, tinggal satu kost bahkan buang air kecil pun tak terpisahkan. Masalahnya mereka ini tergolong cowok 'kentang' alias kena tanggung. Tampangnya biasa saja dan isi dompet pun pas-pasan. Tidak ada satu perempuan pun yang mau sama mereka.

Hingga suatu hari trio itu memutuskan untuk menyudahi status jomblo mereka. Kebetulan muncul mahasiswi baru di kampus mereka yang cantik dan seksi bernama Rebecca (VJ Marissa). Abi dibantu dua sahabatnya pun berniat untuk mendapatkan Rebecca. Namun usaha Abi bukannya tanpa halangan, Tommy (VJ Mike) jagoan kampus yang playboy juga mengincar Rebecca. Persaingan muncul, Abi berusaha dengan segala cara untuk mengungguli Tommy.

Sesuai dengan genrenya, sebagai film komedi dewasa, 'Mupeng' menghadirkan adegan-adegan yang cukup menghibur. Misalnya ketika Eksa yang tidak sengaja menelan seekor kecoa atau Abi yang membuat kaget sahabatnya ketika melakukan masturbasi di toilet. Dialognya yang sering diselipi kata-kata kasar justru semakin realistis karena mengesankan kalimat sehari-hari remaja ibukota.

Sayangnya alur cerita 'Mupeng' mudah ditebak. Akting beberapa pemainnya seperti Dimas Aditya juga terlihat kaku. Beberapa adegan juga membuat penonton hilang selera alias tak mupeng (muka pengen-red) lagi.

Awi Suryadi sang sutradara mengakui bahwa film ini memang ditujukan untuk mengocok perut penonton. Penonton dibuat mudah mencernanya dan hanya perlu tertawa. Cameo seksi berbusana minim juga dipertontonkan dan seperti mengingatkan kita pada kejayaan film-film Warkop DKI. Hadirnya artis senior Titi Qadarsih dirasa pas untuk memancing performa pemain lain yang rata-rata masih baru.

Benarkah banyak pria yang hanya bisa mupeng dalam menginginkan sesuatu? Film ini memiliki pesan moral bahwa jika kita ingin mencapai impian, kita harus berusaha untuk mendapatkannya.
Jumat, 24 Oktober 2008

'GARA-GARA BOLA', Kisah Lain di Balik Pertandingan Sepak Bola

Jika sebagian besar orang sangat menantikan pertandingan final Piala Dunia, tak demikian dengan Ahmad (Winky Wiryawan) dan Heru (Herjunot Ali). Mereka berdua malah keteteran dikejar penagih utang. Dua sahabat ini harus memutar otak, patungan demi melunasi utang.

Ahmad yang memiliki usaha desain T-shirt kecil-kecilan serta Heru, kasir di restoran franchise bakmi, dikejar oleh debt collector kiriman salah satu bandar judi bola terbesar di Jakarta setelah tim Jerman favorit mereka kalah. Mereka pun hanya diberi waktu hingga malam pertandingan final untuk melunasi utangnya.

Berbagai usaha mereka lakukan demi melunasi utang. Jalan terjal harus mereka tempuh. Heru dipecat oleh bosnya, Mieke (Aida Nurmala) dengan persetujuan ayahnya (Tarsan), sang pemilik restoran. Tak hanya itu, Ahmad dan Heru diusir dari kontrakan oleh ibu kos mereka (Aming), seorang waria yang disiplin menagih uang kos. Hidup Heru juga diperumit oleh kekasihnya yang masih SMA (Laura Basuki).

Bagaimana kisah dua sahabat ini menyelesaikan masalah demi masalah yang menerpa hidup mereka?

Film perdana garapan Agasyah Karim dan Khalid Kashogi ini diproduseri oleh Nia Dinata di bawah bendera Happy Ending Pictures, divisi Kalyana Shira Films.
Selasa, 21 Oktober 2008

'THE HOUSE BUNNY', Saat Keterbukaan Menjadi Jawaban

Shelley Darlington (Anna Faris) adalah seorang waitress di Playboy Club. Selama 9 tahun terakhir, Shelley tinggal di Playboy Mansion atau tempat tinggal Hugh Hefner sang pemilik majalah Playboy. Namun karena usia yang tak lagi muda, Shelley akhirnya didepak oleh para Playboy Bunny (waitress) lain yang tinggal di sana.

Karena selama ini Shelley tak pernah punya keterampilan lain dan tak punya banyak tabungan, Shelley terpaksa harus berkeliaran di jalanan kota Los Angeles. Nasib membawa Shelley ke sebuah rumah tempat perkumpulan mahasiswi bernama Zeta Alpha Zeta.

THE HOUSE BUNNY

Ketujuh mahasiswi yang tinggal di sana terancam diusir dari asrama mereka oleh kelompok mahasiswi lain dan hanya Shelley yang mampu melindungi ketujuh orang mahasiswi itu dari ancaman kelompok Phi Iota Mu. Saat para wanita itu semakin dekat, maka mau tak mau mereka harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi diri mereka sendiri.

Menilai sebuah film komedi kadang memang tak mudah. Banyak faktor seperti tingkat pendidikan, budaya, selera, bahkan sampai wawasan sangat menentukan lucu atau tidaknya sebuah film humor. Begitu juga dengan film THE HOUSE BUNNY ini. Film seperti ini sebenarnya punya potensi menjadi lucu namun di sisi lain ia juga berpeluang untuk jadi membosankan.

THE HOUSE BUNNY

Dari sisi cerita, sebenarnya tak ada yang baru dalam film ini. Ide dasar film ini bisa jadi sangat mirip dengan film LEGALLY BLONDE atau CLUELESS yang juga berkisah tentang 'petualangan' gadis berambut pirang yang di Amerika sana selalu diidentikkan dengan 'tak punya otak'. Kelucuan yang coba ditampilkan sebenarnya lebih bersifat harfiah dan pada saat film berakhir, kelucuan itu sudah tak lagi lucu.

Logika juga bukan salah satu pilihan untuk menilai film seperti ini. Kalau Anda perhatikan benar-benar, sebenarnya banyak hal yang tak logis yang ditampilkan film ini namun harus dimaklumi bahwa kadang itu memang bukan salah satu pertimbangan sang sutradara dalam membuat film-film seperti ini.

THE HOUSE BUNNY

Yang cukup menarik dari film ini justru adalah akting Anna Faris yang berperan sebagai Shelley Darlington. Film komedi memang bukan barang baru bagi Anna. Aktris ini juga tampil dalam franchise SCARY MOVIE. Setelah cukup lama berperan sebagai gadis 'bodoh' dalam SCARY MOVIE, bisa dibilang penampilan Anna dalam THE HOUSE BUNNY jauh lebih baik. Sayangnya itu tak diimbangi dengan naskah film yang seimbang. Akibatnya, di beberapa adegan potensi yang dimiliki Anna Faris memang seolah sia-sia.

Terlepas dari itu semua, sebuah film humor memang tak bisa dianggap sukses bila tak mampu memancing tawa. Dengan parameter itu, maka bagus tidaknya film ini kembali pada sesuai atau tidaknya jenis humor yang ditawarkan dengan selera Anda. Sebagai sebuah hiburan yang tak memerlukan banyak pemikiran, film ini layak juga dijadikan pertimbangan.

Minggu, 19 Oktober 2008

'KU TUNGGU JANDAMU', Status 'Miring' Janda Muda

Setelah bermain dalam dua film horor, Dewi Persik akhirnya berganti genre. Dalam film produksi Maxima Pictures ini, Dewi akan bermain dalam film komedi dewasa, KU TUNGGU JANDAMU. Dalam film ini, Dewi akan beradu peran dengan sesama janda, Andi Soraya.

Film yang skenarionya ditulis oleh Alim Sudio dan disutradarai oleh Findo Purwono Hw ini bercerita mengenai perjuangan Persik, seorang janda yang ingin meluruskan pandangan masyarakat mengenai statusnya.

Perjuangan Persik diawali dengan pengusiran. Sebuah lingkungan apartemen ribut, ibu-ibu menuntut seorang janda muda, Persik, agar minggat karena dia dianggap sebagai biang kekacauan rumah tangga mereka. Suami dan anak-anak mereka terobsesi dengan Persik.

Akhirnya, Persik tinggal di rumah kakaknya, Cherry, yang juga menjanda setelah diceraikan oleh suaminya. Cherry mengontrak sebuah rumah di kompleks tertutup yang berdiri di atas tanah milik keluarga besar Pak Darman. Ada empat rumah lain di kompleks tersebut, yang semua penghuninya mempunyai masalah, dari korban bullying, penderita mother complex, terobsesi seks, dan sebaliknya, ada yang takut berhubungan seks.

Kehadiran Persik mampu 'memanaskan' kondisi kompleks yang awalnya tenang. Namun hal ini juga menjadi bumerang bagi Persik yang terancam diusir untuk kedua kalinya.

Apa yang akan dilakukan Persik untuk membantu warga kompleks penuh masalah? Saksikan perjuangan Persik agar tak diusir lagi, sekaligus meluruskan pandangan warga kompleks mengenai status janda yang diembannya, mulai tanggal 16 Oktober 2008!