Tampilkan postingan dengan label Resensi Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Musik. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Agustus 2009

Panic At the Disco: 'PRETTY. ODD.' Mereka Tetap Seperti Dulu



Panic At the Disco akhirnya kembali. Jika Anda sudah rindu dengan penampilan mereka yang fantastis bak opera dengan berbagai ikon sirkus di dalam album mereka, maka bersiaplah untuk 'menelan' PRETTY. ODD.

Saat mulai merasakan We're So Starving sebagai track pertama dalam album kedua mereka ini, Panic menjanjikan pada penggemar mereka jika, 'Kami tetap band emo/pop yang telah menjual jutaan kopi album!' Walaupun sebenarnya tidak terlalu benar.

Pasalnya, kesan gelap dan suram khas band emo dalam album debut mereka, A FEVER YOU CAN'T SWEAT OUT, yang dirilis 2005 silam, nampaknya sudah semakin sirna seiring Anda mendengarkan lagu-lagu berikutnya.

Tak ada lagi kisah tentang pelacur, penari bugil, dan perselingkuhan. Panic telah menggantikannya dengan nada-nada sunny pop dan keceriaan ala The Beatles dan The Beach Boys. Terdengar jelas dalam single pertama mereka, Nine in the Afternoon, yang lengkap dengan perpaduan petikan gitar yang 'malas' dan sentuhan terompet, benar-benar akan terasa beda dengan single ternama mereka, I Write Sins Not Tragedies, yang penuh kemarahan.

Rupanya Panic memang menghabiskan waktu empat tahun untuk menggodok materi album baru mereka ini sehingga bisa benar-benar dilepas dari Fall Out Boy.

Perlu bukti? Dengarkan saja That Green Gentleman (Things Have Changed), Do You Know What I'm Singing?, dan Folkin' Around yang agak-agak terdengar seperti lagu country (sebenarnya cukup menghancurkan image yang ingin dibangun Panic dalam album kedua ini).

Vokal Urie pun lebih matang di album kedua ini. Sehingga untuk keseluruhan, PRETTY. ODD. memang a. pretty. rock. album.
Minggu, 12 April 2009

Julian: 'RISE UP', Debut Andalan Berbumbu Cinta

Satu lagi jebolan INDONESIAN IDOL yang mencoba berkiprah di dunia musik tanah air. Dialah Julian, finalis musim ke-4. Di album debutnya yang diusung Rajawali Records ini, Julian memilih piano sebagai instrumen utama. Beberapa arranger pun digaetnya, termasuk Andy Bayou Irawan, Ari Bias, Dodiek Lavilla, serta Uray K.

Pemilihan Julian untuk mengusung piano di albumnya begitu pas. Tapi memang sudah tak diherankan lagi bagi para penggemarnya. Pasalnya, Julian sendiri tercatat pernah mengukir prestasi sebagai keyboardist terbaik se-Jambi selama 17 kali, 5 kali di antaranya Tingkat Sumatera.

Di lagu pertama berjudul Demi Cinta, ciptaan Dodiek Lavilla, suara khas Julian langsung membahana dengan iringan dentingan piano, yang dibumbui gitar di tengah lagu. Sayangnya, suara indah Julian terasa lebih tenggelam di antara musik yang apik diramu. Masih mengusung gaya jazz yang unik, sekilas dari nada suaranya, Julian seakan 'meniru' gaya penyanyi asal Filipina, Christian Bautista.

Lagu berikutnya, ia mengandalkan Lelaki, lagu mellow yang bisa membuat pendengar berangan. Awalnya dimulai dengan dentingan gitar, simple tapi menghanyutkan. Di tengah, lagu ciptaan Pace ini diberikan sentuhan sedikit gitar listrik bercampur piano. Lirik lagu yang berulang-ulang pun terasa tidak membosankan.

Di lagu ketiga, Kau Milikku, dilihat dari judulnya, benar saja lagu ini dimulai dengan lantunan yang Julian yang sedang terluka. Suara yang mirip Glenn Fredly membuat lagu ini makin menyayat. Bercerita tentang kerinduan seseorang yang masih menyayangi mantan pasangannya di sisa hidupnya. Disambung lagu selanjutnya, Julian masih berkisah tentang kesedihan, yakni seputar tak bisa memiliki. Namun, dengan musik yang lebih ceria, di lagu yang lebih ngepop ini Julian lebih bisa menerima jka Takdirmu Bukan Untukku.

Dari semua 10 lagu andalannya, ada dua lagu yang diciptakan oleh Julian sendiri yakni Terpisah dan Believe In You, satu-satunya lagu berbahasa Inggris di album ini. Hasilnya? Boleh dibuktikan sendiri. Pastinya lagu ini masih berkisah tentang kesedihan dengan pop dan suara Julian lebih mirip boysband.

Cowok bernama lengkap Julian Anthony Syahputra ini tinggal menjemput saat keemasannya. Melalui album RISE UP, ia makin dekat saja ke dunia harapannya, menjadi musisi ternama di Indonesia.


Jakarta - Cuti 4 bulan dan menyiapkan materi album 2 tahun akhirnya inilah persembahan The All-American Rejects (AAR), 'When The World Comes Down'. Beginilah jika AAR berusaha total.

Band asal Oklahoma yang berdiri sejak 2001 itu membuka perjumpaan dengan single 'Gives You Hell'. Lagu itu cukup catchy untuk jadi single, dengan nuansa pop dan sedikit bising di bagian akhirnya.


'I Wanna' dan 'Damn Girl' terdengar lebih "keras" dari karya-karya mereka sebelumnya. Namun 'Fallin' Apart' punya lirik yang oke punya.

In your garden where the roses sleep
I can make you anythi' you wanna be
When that body's close to me
I can give you anythin' you'd ever need

'Breakin' dikemas dengan beat drum yang unik. Masih dengan nuansa rock alternatif bersentuhan emo. Sementara 'Mona Lisa (When The World Comes Down)' lebih mellow ketimbang track lainnya. AAR juga membubuhkan iringan hammond di beberapa bagian.

Di 'Another Heat Calls' band yang berpersonelkan Tyson Ritter, Nick Wheeler, Mike Kennerty dan Chris Gaylor berkolaborasi dengan dua penyanyi perempuan yaitu Catherine & Allison Pierce. Mereka membubuhkan orkestra di dalamnya.

Track lain yang tak boleh Anda lewatkan yaitu 'Believe' dan The Wind Blows'. Sebagai bonus mereka juga menambahkan 6 lagu yang masih berbentuk demo.

Secara keseluruhan, album ini sepertinya kurang "nendang" dari yang sebelumnya. AAR terlihat lebih memaksakan karyanya keluar saja. Namun betapa sayang jika track-track canggih ini diabaikan bukan?

Daftar track album 'When the World Comes Down' AAR:
1. I Wanna
2. Fallin' Apart
3. Damn Girl
4. Gives You Hell
5. Mona Lisa
6. Breakin'
7. Another Heart Calls feat Catherine & Allison Pierce
8. Real World
9. Back to Me
10. Believe
11. The Wind Blows
Minggu, 28 Desember 2008

AC/DC Makin Garang di 'Black Ice'





Kemana perginya AC/DC selama 8 tahun? Selama itu mereka akhirnya mengumpulkan materi untuk menggebrak genre hard rock. Terbukti AC/DC makin garang di 'Black Ice'.

Album ke-16 dari band asal Austalia itu boleh jadi masuk dalam daftar album yang paling dinantikan. Lahir dari sebuah band yang mulai berkarir sejak tahun 70an. Apakah kini karya mereka melempem di makan usia? Jawabannya jelas tidak.

Coba saja dengan hits andalan mereka, 'Rock 'n' Roll Train'. Seperti judulnya, lagu ini sangat rock n roll dengan distorsi tak henti di sepanjang lagu. Terdengar lebih catchy, itu mengapa sangat cocok sebagai jagoan pamungkas.

Beralih ke track selanjutnya hadir 'Skies on Fire' yang lebih metal. Nuansa rocknya sangat kental. Walau sudah gaek, AC/DC seperti tidak kehilangan tenaga sama sekali. Energi mereka mengalir dalam lagu ini. Coba juga dengar 'Decibel', 'Stormy May Day' juga 'Rocking All the Way'.

Khusus di 'War Machine', AC/DC bermusik bak berperang. Mereka menderu-derukan alat musiknya tanpa ampun. Iramanya seru. Sementara 'Smash 'n' Grab' juga 'Rock 'n' Roll Dream' terdengar lebih kalem. Tapi jangan lewatkan juga track lainnya yang tak kalah catchy.

Tua-tua keladi, makin tua penampilan AC/DC pun tak mau kalah dari anak muda. Mereka terlihat sangat narsis di sampul albumnya. Memang mereka mengemasnya dengan nuansa hitam yang sesuai dengan judul album. Namun coba buka bagian dalamnya. Satu-satu mereka berpose konyol. Bravo grandpa.. ups...

Daftar track album 'Black Ice' AC/DC:
1. Rock 'n' Roll Train
2. Skies on Fire
3. Big Jack
4. Anything Goes
5. War Machine
6. Smash 'n' Grab
7. Spoilin' for a Fight
8. Wheels
9. Decibel
10. Stormy May Day
11. She Likes Rock 'n' Roll
12. Money Made
13. Rock 'n' Roll Dream
14. Rocking All the Way
15. Black Ice
Minggu, 14 Desember 2008

Dido: 'SAFE TRIP HOME', Guratan Kesedihan Yang Dalam

Menjadi seorang penyanyi yang sukses memang tak selalu harus memiliki suara yang indah atau mampu berolah vokal dengan baik. Kadang dengan banyak keterbatasan, seorang penyanyi mampu memberikan yang terbaik dan dapat dinikmati oleh para pendengarnya. Dan Dido adalah satu dari penyanyi yang tahu benar bagaimana cara memberikan yang terbaik dari segala keterbatasan yang ia miliki.

Dido memang bukanlah Mariah Carey yang punya suara merdu sekaligus memiliki kemampuan olah vokal yang benar-benar handal. Jangkauan suara Dido tergolong sangat terbatas. Dan saat ia berusaha menggapai nada-nada tinggi pun teknik falsetto-nya tak terlalu mengagumkan. Tapi dari segala keterbatasan itu, Dido mampu bersinar dengan gayanya sendiri.

Lagu-lagu Dido memang lebih mirip disebut sebuah cerita yang dinyanyikan. Dido tak pernah mencoba menyanyikan paduan nada-nada yang sulit atau mencoba mengobral improvisasi. Ia hanya menyanyikan nada-nada sederhana seperti juga lirik-lirik lagunya yang berkisah tentang problem yang dihadapinya dari waktu ke waktu.

Dan setelah melepas dua album dengan jeda waktu yang cukup panjang, kali ini Dido meluncurkan album ketiganya yang diberi judul sederhana SAFE TRIP HOME atau kurang lebih berarti perjalanan pulang dengan selamat. Bila dibandingkan dengan dua album terdahulunya, yang terakhir ini terasa lebih 'matang' meski di sisi lain ada guratan kesedihan yang dalam pada setiap lagu yang ada di album ini.

Ada sebelas lagu yang dikemas dalam album SAFE TRIP HOME ini dan hampir semua lagu memiliki nuansa suram baik dari sisi musikal maupun lirik. Sepertinya lewat album ini Dido ingin menyampaikan kesedihan yang dirasakannya. Ini tergambar kuat dari tarikan vokal dan penjiwaan yang seolah menggiring kita ke kisah sedih yang dialaminya.

Dan keputusan Dido menggandeng produser Brian Eno agaknya memang tepat. Brian yang punya latar belakang menggarap musik-musik pengisi film tahu benar instrumen apa yang harus digunakan untuk memperkuat lirik dan suara yang sebenarnya sudah 'bercerita' ini. Coba saja dengarkan lagu-lagu seperti Look No Further, Let's Do the Things We Normally Do atau Grafton Street yang meski tak menyuguhkan aransemen yang kompleks namun mampu menggambarkan suasana yang diinginkan Dido.

Memang tak ada pamer olah vokal atau kehandalan memainkan instrumen dalam album ini. Namun patut dicatat jika semua lagu adalah hasil karya Dido. Dan bukan hanya itu, Dido juga mengisi track keyboard, drums dan guitar pada hampir semua lagu. Singkatnya, album ketiga Dido yang dilepas 17 November lalu ini memang layak dikoleksi.
Selasa, 02 Desember 2008

Boyzone: BACK AGAIN... NO MATTER WHAT

Nama Boyzone memang bukanlah nama yang asing buat mereka yang tumbuh di era 90-an. Namun setelah vakum selama delapan tahun, bisa jadi tak banyak yang ingat pada boy band asal Irlandia ini. Dan kini setelah sekian lama, Boyzone kembali meluncurkan album baru, meski sebenarnya hanya tiga lagu yang benar-benar baru.

Ada delapan belas track yang dikemas dalam album berjudul agak 'memaksa', BACK AGAIN... NO MATTER WHAT ini. Lima belas lagu dari seluruh isi album ini adalah lagu-lagu lawas mereka yang susunannya sebenarnya tak jauh beda dengan album The Best mereka yang diberi judul BY REQUEST.

Ada satu fakta unik tentang lagu-lagu Boyzone ini. Meski Anda bukanlah penggemar musik-musik seperti ini, tapi Anda tak bisa berbohong bila Anda pasti sudah akrab dengan beberapa lagu mereka termasuk lima belas lagu yang ada dalam album ini. Ini tak lepas dari peran media seperti radio dan televisi yang sering memutar lagu-lagu mereka. Tanpa sadar, bisa jadi Anda malah sudah hafal lirik dari lagu-lagu mereka.

Satu yang mungkin bisa dijadikan andalan dari grup ini secara musikal adalah nada-nada catchy dan sederhana yang pas dinyanyikan bareng-bareng. Selebihnya lagu-lagu Boyzone sebenarnya tak terlalu menawarkan sesuatu yang baru. Konsep musik yang sama juga ditawarkan boy band lain yang saat itu memang seolah merajai dunia musik. Ini ditambah fakta bahwa satu-satunya anggota Boyzone yang memiliki suara 'layak jual' hanyalah Ronan Keating saja.

Setelah bubar di tahun 2000, kelima personil boy band ini memang kemudian disibukkan dengan solo karir mereka sendiri-sendiri. Dari kelima anggota Boyzone bisa jadi memang hanya Ronan Keating saja yang sempat memperoleh sorotan media meski secara komersial dan popularitas, solo karir Ronan ini masih belum bisa mengimbangi kesuksesan Boyzone. Selebihnya bisa dibilang hilang dari permukaan.

Pemasangan tiga lagu baru dalam album ini membuatnya seolah menjadi semacam penjajakan pasar. Mungkin Boyzone berusaha untuk kembali ke dunia musik namun belum terlalu yakin bahwa satu album dengan materi yang sepenuhnya baru akan bisa diterima pasar. Satu-satunya solusi adalah dengan memasukkan lagu-lagu hits lawas mereka dengan harapan setidaknya album ini masih akan dibeli oleh para fans setia grup ini.

Mendengar tiga lagu baru yang masing-masing berjudul Love You Anyway, Better dan Can't Stop Thinking About You, sebenarnya tak ada yang benar-benar fresh dari tiga lagu ini. Bahkan saat menyadari bahwa lagu ini adalah lagu baru, maka kesan pertama yang terasa adalah 'konyol' karena 'masa-basa' kejayaan boy band sudah lewat. Beda saat mendengar lagu-lagu lama mereka. Setidaknya kesan yang muncul adalah nostalgia.

Terlepas dari bagus atau tidak, album ini lebih baik dinikmati sebagai media untuk sekedar mengenang masa lalu. Para fans lama grup ini pasti tak akan melewatkan album yang satu ini, sementara bagi yang bukan fans bisa jadi tak akan terlalu kecewa bila tak memiliki album ini.
Minggu, 09 November 2008

Angeliq: 'PERTAMA', Album Pertama Yang Kedodoran

Nama Angeliq mungkin terdengar asing di telinga, namun bila melihat siapa Angeliq sebenarnya, Anda pasti akan tahu bahwa ia bukanlah pendatang baru. Ia mungkin lebih dikenal dengan nama Angel Lelga. Lalu apa yang sebenarnya ditawarkan Angeliq lewat album berjudul singkat, PERTAMA ini?

Agaknya ada usaha untuk mengubah imej secara total dalam album ini. Mulai dari nama hingga gaya bermusik dari artis ini. Bila sebelumnya publik mengenalnya sebagai penyanyi dangdut, kali ini Angeliq mencoba mengusung genre pop dalam delapan lagu yang dikemas dalam album ini.

Sebenarnya tak banyak yang bisa ditawarkan album ini. Tak ada yang baru dari kedelapan lagu yang ada dalam album ini, baik dari tema, lirik hingga aransemen. Semua lagu masih mengusung tema cinta yang kadang mulai jadi terasa menjenuhkan lantaran tak menawarkan sudut pandang yang cukup segar untuk bisa mengangkat tema itu jadi lebih menarik.

Beberapa lagu sebenarnya punya potensi untuk jadi sebuah lagu yang pantas didengar. Misalnya saja lagu kedua yang berjudul Maafkan Tuhan yang kental dengan gaya bermusik Bebi Romeo. Lagu yang dibuka dengan suara denting piano ini terasa mengalun lembut dan perlahan bermetamorfosa menjadi sebuah lagu yang megah dan ditutup dengan suara gitar akustik dan piano yang membawa nuansa kembali sunyi. Sayangnya lagu ini jadi terasa 'sia-sia' lantaran Angeliq tak mampu menerjemahkan 'roh' lagu ini ke dalam tarikan vokalnya.

Vokal Angeliq sempat kedodoran terutama di saat harus menjangkau nada-nada rendah. Angeliq seolah juga tak mampu membawakan lagu ini dengan 'mulus' sehingga lagu yang indah ini jadi terasa 'tersendat-sendat' terutama pada sisi vokal.

Kasus yang sama terulang pada lagu keempat yang bertitel Cinta Tak Harus Memiliki. Kali ini bahkan lebih parah karena di awal lagu Angeliq harus bernyanyi hanya dengan iringan denting piano yang lamat-lamat terdengar di belakang. Angeliq lagi-lagi tak mampu menyatu dengan emosi yang dibawa lagu ini. Yang lebih buruk lagi, lompatan antar nada yang cukup jauh tak mampu di-handle vokal Angeliq dengan baik.

Dari delapan lagu yang ada, bisa jadi cuma lagu ketiga yang berjudul Pertama yang paling 'pas' dibawakan Angeliq. Bisa jadi itu juga alasan kenapa lagu ini yang juga dijadikan single andalan album ini, bukan karena lagu ini yang terbaik di antara lagu lainnya namun karena ini lagu yang paling 'bisa didengar' di antara kedelapan lagu yang ada.
Rabu, 22 Oktober 2008

Various Artists: 'OST. LASKAR PELANGI', Begitu Banyak Warna

Gado-gado, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan album yang berisi sembilan lagu yang menjadi sound track film LASKAR PELANGI ini. Bagaimana tidak, Anda bisa menemukan banyak musisi dengan banyak genre musik yang mencoba 'menerjemahkan' alur cerita film ini menjadi deretan nada dan kata dalam lagu mereka.

Nidji kebagian membuka album ini dengan track Laskar Pelangi yang pasti sudah tak asing lagi di telinga lantaran saking seringnya diputar di banyak media. Nidji mencoba memasukkan unsur etnik dengan memasukkan bunyi mandolin yang kadang mencuri-curi masuk di antara bunyi instrumen lain.

Sherina menyusul di track kedua dengan lagu Ku Bahagia. Bisa jadi lagu ini adalah lagu yang paling bagus dari sisi aransemen. Lagu ini terdengar 'rapat' dengan latar string arrangement yang mengawal vokal Sherina hampir sepanjang lagu berdurasi kurang dari lima menit ini. Lagu ini menerjemahkan film LASKAR PELANGI sebagai suatu kesederhanaan yang diwujudkan dalam lirik yang lugas tanpa ada metafora.

Di urutan keenam ada lagu yang cukup unik. Lagu berirama waltz ini punya paduan melodi yang unik di antara lagu-lagu yang lain. Sayangnya kesan yang tertangkap malah Coldplay. Entah karena kebetulan atau memang disengaja namun yang jelas saya seolah mendengar suara Chris Martin di sini. Terlepas dari itu, lagu ini lumayan sulit dibawakan karena punya range nada yang cukup berjauhan. Yang membuat lagu ini jadi beda dengan lagu-lagu lain mungkin adalah bahasa penuh metafora yang digunakan dalam liriknya.

Secara garis besar, album ini hanya memiliki keterkaitan hanya pada tema lirik saja. Dari sisi musik saya tak melihat adanya kaitan yang cukup kuat untuk membuat album ini jadi terasa sebagai satu album. Nuansa yang dibentuk tiap lagu terasa berbeda. Kesan ini jadi makin terasa saat Anda belum melihat filmnya. Dengan kata lain album ini tak bisa dipisahkan dari filmnya. Anda tak bisa menikmati album ini sebagai satu album yang terlepas dari filmnya.

Itulah kenapa saya menyebutnya gado-gado. Begitu banyak warna dalam album ini. Atau mungkin karena album ini adalah sound track dari film berjudul LASKAR PELANGI, pelangi dengan banyak warna. Terlepas dari itu album ini punya sisi menarik lantaran menjadi sebuah escape dari kemonotonan tema yang melanda dunia musik Indonesia.
Jumat, 10 Oktober 2008

NKOTB: 'THE BLOCK', The Kids Are Back

New Kids on the Block (NKOTB) bisa jadi adalah cikal bakal dari 'wabah' boy band di tahun 80-an. Sejak munculnya grup ini, banyak bermunculan boy band yang rata-rata menawarkan hal yang sama: musik ringan, dance, dan tentu saja tampang manis. Tak heran jika kebanyakan fans boy band adalah cewek.

Setelah vakum sekitar dua dekade, NKOTB kembali bergabung dan melepas album yang mereka beri judul THE BLOCK. Bisa jadi judul album ini dipilih lantaran, mereka bukan NEW dan yang jelas mereka bukan lagi KIDS. Apa pun alasannya, yang jelas album berisi 14 track ini tak membawa angin segar dalam industri musik.

Single pertama yang mereka lepas adalah Summertime. Tiga bulan kemudian single kedua yang berjudul Single diluncurkan, sementara albumnya sendiri baru dilepas satu bulan setelah peluncuran single kedua ini. Tepatnya tanggal 2 September 2008 lalu.

Dari sisi musik, album ini masih mengikuti selera pasar dan tak banyak membawa perubahan yang terlalu menyolok. Yang cukup mengejutkan dari album ini justru adalah lirik-lirik lagunya. Bila dua puluh tahun lalu Donnie Wahlberg, Danny Wood, Joey McIntyre, Jordan Knight, dan Jonathan Knight banyak mengumbar kata-kata manis tentang cinta, kali ini mereka banyak bicara tentang seks. Memang tak ada salahnya mengingat bahwa mereka bukan lagi remaja berusia belasan yang sedang kasmaran. Namun yang jadi masalah adalah bahwa topik seks ini seolah mendominasi seluruh album sehingga mau tak mau membawa kesan monoton juga.

Beberapa lagu yang ada di album ini sebenarnya punya potensi cukup bagus. Misalnya saja Single yang ada di urutan kedua atau Full Service yang punya nada catchy dan mudah dicerna. Close To You yang dipasang sebagai track penutup tampaknya lebih membawa gaya bermusik mereka di tahun 80-an lalu.

Dalam album ini juga ada beberapa nama besar seperti Ne-Yo, Pussycat Dolls, dan New Edition yang ikut menyumbangkan suara mereka. Entah karena memang keinginan untuk memadukan gaya bermusik mereka atau lebih untuk mengangkat nilai jual dari album ini. Langkah ini juga sah-sah saja dan banyak artis lain yang juga melakukannya. Namun kesan bahwa mereka seolah tak 'percaya diri' yang sudah terbentuk itu jadi makin kuat dengan banyak digunakannya efek suara elektronik.

Terlepas dari bagus atau tidaknya album ini, yang jelas album ini akan laris manis. Bukan karena kualitas namun lebih karena nilai sentimentil. Akan banyak fans lama NKOTB yang memburu album ini untuk sekedar bernostalgia dengan idola masa muda mereka.